Sumber terpercaya menyebut sempat terjadi tekanan verbal hingga letusan senjata api yang diduga sebagai bentuk intimidasi agar kapal dan muatan dilepaskan
KOORDINAT.CO,GORONTALO UTARA — Dugaan penyelundupan bahan kimia berbahaya jenis CN atau sianida dalam jumlah besar mengguncang wilayah perairan Gorontalo Utara. Sebuah kapal asing tanpa nama dan tanpa bendera dilaporkan ditangkap aparat Pos Polair Marnit Tolinggula setelah pengejaran dramatis di laut, Kamis (21/5/2026).
Namun, operasi penindakan tersebut justru diwarnai dugaan intervensi bersenjata dari oknum aparat wilayah lain hingga sebagian barang bukti dan anak buah kapal (ABK) disebut dibawa secara paksa.
Informasi yang diperoleh media ini menyebutkan, kasus bermula sekitar pukul 07.20 WITA saat nelayan pesisir Tolinggula melaporkan adanya dua kapal asing mencurigakan yang masuk melalui jalur laut Gorontalo Utara.
Kedua kapal disebut tidak memiliki identitas maupun bendera negara.
“Nelayan curiga karena kapal itu tidak pernah terlihat sebelumnya di wilayah tersebut,” ungkap salah satu sumber yang mengetahui operasi tersebut.
Menerima laporan itu, personel Pos Marnit Tolinggula Ditpolair Polda Gorontalo yang dipimpin seorang komandan pos bersama dua anggota melakukan patroli penyamaran menggunakan perahu nelayan.
Sekitar pukul 08.00 WITA, pengejaran dilakukan ke arah perairan Sulawesi Tengah setelah kedua kapal diduga mencoba melarikan diri.
Dari dua kapal yang dikejar, satu berhasil kabur, sementara satu lainnya berhasil dihentikan di wilayah Tanjung Lilito, perairan Palele, Sulawesi Tengah.
Koordinat penangkapan disebut berada di titik 01°04′02.5″N 122°03′25.01″E.
Saat pemeriksaan awal dilakukan, petugas menemukan puluhan karung bahan kimia yang diduga sianida dengan estimasi berat mencapai sekitar 1,5 ton.
Karung-karung tersebut ditemukan tersusun di dalam kapal tanpa dilengkapi dokumen resmi pengangkutan bahan berbahaya.
Dugaan penyelundupan ini langsung memantik perhatian karena sianida merupakan bahan kimia berisiko tinggi yang kerap dikaitkan dengan aktivitas tambang emas ilegal hingga praktik penangkapan ikan destruktif menggunakan racun.
Namun situasi mendadak berubah tegang ketika proses pemeriksaan berlangsung.
Menurut informasi yang dihimpun media ini, tim Polair yang melakukan penindakan didatangi sejumlah personel aparat dari wilayah lain menggunakan dua perahu dan membawa senjata api.
Sumber terpercaya menyebut sempat terjadi tekanan verbal hingga letusan senjata api yang diduga sebagai bentuk intimidasi agar kapal dan muatan dilepaskan.
“Petugas di lapangan sempat mendapat tekanan agar tidak melanjutkan pengamanan,” ujar sumber lain yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Meski demikian, tim Pos Polair Marnit Tolinggula dikabarkan tetap mempertahankan penindakan dan berhasil membawa satu unit kapal beserta sebagian sisa barang bukti menuju Gorontalo Utara.
Sementara sebagian muatan dan ABK kapal disebut telah dibawa menuju arah Pelabuhan Palele.
Dalam laporan internal yang beredar, aparat di lapangan juga mengaku melihat seorang pria bernisial KL yang diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas distribusi bahan kimia tersebut berada di lokasi saat proses pengambilan sebagian barang bukti berlangsung.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan intervensi tersebut maupun asal-usul bahan kimia yang ditemukan di atas kapal.
Sementara itu, satu unit kapal bersama sisa barang bukti kini dikabarkan diamankan di Pos Polair Marnit Tolinggula untuk kepentingan penyelidikan dan pengembangan lebih lanjut.
Kasus ini kini menjadi perhatian serius karena diduga membuka jalur gelap distribusi bahan kimia berbahaya lintas perairan Gorontalo dan Sulawesi Tengah.
Sejumlah sumber menilai, masuknya sianida dalam jumlah besar melalui jalur laut tanpa dokumen resmi sulit dianggap sebagai aktivitas biasa.
“Kalau jumlahnya sudah tonase, tentu harus ditelusuri siapa pemesan, tujuan distribusi, dan siapa yang membekingi jalur masuknya,” kata sumber lainnya.
Publik kini menunggu langkah lanjutan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dugaan penyelundupan sianida tersebut, termasuk kemungkinan adanya jaringan terorganisir yang bermain di wilayah perairan utara Sulawesi.












