BeritaDaerah

YLKI Gorontalo Akan Sidak SPBU, Pertalite Cepat Habis tetapi Pengecer Juga Kesulitan Stok

269
×

YLKI Gorontalo Akan Sidak SPBU, Pertalite Cepat Habis tetapi Pengecer Juga Kesulitan Stok

Sebarkan artikel ini

“Di SPBU cepat habis, di pengecer juga kosong. Lantas, begitu banyak kendaraan yang bolak-balik mengantre, BBM yang mereka beli itu ke mana?

GORONTALO, KOORDINAT.CO — Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Gorontalo berencana melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk membantu pemerintah mengawasi distribusi BBM bersubsidi, khususnya Pertalite.

Langkah tersebut disampaikan Ketua YLKI Gorontalo, Hariyanto Puluhulawa, S.H., menyikapi fenomena antrean panjang kendaraan yang terus terjadi di sejumlah SPBU di Provinsi Gorontalo.

Menurut Hariyanto, ada kejanggalan dalam pola distribusi Pertalite yang perlu ditelusuri. Pasalnya, berdasarkan informasi yang diperolehnya, kuota Pertalite di sejumlah SPBU disebut tidak bermasalah, tetapi antrean kendaraan masih terus mengular dan stok BBM cepat habis.

“Yang menjadi pertanyaan kami, kalau kuota Pertalite di SPBU tidak bermasalah, mengapa antrean kendaraan masih begitu panjang dan BBM cepat habis? Ini yang perlu ditelusuri,” ujar Hariyanto dalam keterangan tertulisnya Rabu 14/9.

Artikel Terkait :  Bupati Saipul Memantau Langsung Harga Bahan Pokok di Wilaya Barat Pohuwato

Ia juga menyoroti banyaknya kendaraan, termasuk sepeda motor jenis Suzuki Thunder, yang terlihat berulang kali mengantre untuk mendapatkan Pertalite.

Namun, menurutnya, muncul persoalan lain yang justru menimbulkan tanda tanya. Di tengah dugaan maraknya pembelian Pertalite untuk dijual kembali, sejumlah depot pengecer di pinggir jalan ternyata juga mengalami kesulitan mendapatkan stok.

“Kalau memang kendaraan yang bolak-balik mengantre itu membeli Pertalite untuk dijual kembali di depot pinggir jalan, seharusnya stok di pengecer tersedia. Tetapi kenyataannya, di beberapa tempat justru sulit mendapatkan Pertalite,” ungkapnya.

Hariyanto mengatakan, hasil wawancara pihaknya dengan sejumlah pedagang BBM eceran menunjukkan bahwa mereka juga kesulitan memperoleh Pertalite untuk dijual kepada masyarakat.

Artikel Terkait :  PENAS XVII dan Paradoks Pertanian di Kab.Gorontalo

Kondisi tersebut, menurutnya, menimbulkan pertanyaan mengenai ke mana sebenarnya BBM yang dibeli oleh kendaraan yang berulang kali mengantre di SPBU.

“Di SPBU cepat habis, di pengecer juga kosong. Lantas, begitu banyak kendaraan yang bolak-balik mengantre, BBM yang mereka beli itu ke mana? Ini yang harus dijelaskan melalui pengawasan dan pemeriksaan yang serius,” tegas Hariyanto.

YLKI Gorontalo menilai persoalan ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengatur antrean kendaraan. Pengawasan perlu menyentuh jumlah pasokan, volume penjualan harian, pola pembelian berulang, serta kemungkinan adanya penyimpangan distribusi.

Karena itu, YLKI berencana turun langsung melakukan pemantauan dan sidak sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam membantu pengawasan distribusi BBM. Langkah tersebut diharapkan dapat dilakukan melalui koordinasi dengan instansi dan pihak berwenang.

Artikel Terkait :  Plt Bupati Pohuwato Suharsi Igirisa Hadiri Langsung Kegiatan Bincang Desa Wisata di Popayato

Hariyanto juga mendorong Pertamina Patra Niaga, pemerintah daerah, dan aparat penegak hukum untuk memastikan bahwa Pertalite benar-benar disalurkan sesuai ketentuan.

“Jangan sampai masyarakat terus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM, sementara pola distribusinya sendiri tidak pernah dievaluasi secara menyeluruh,” katanya.

Meski demikian, Hariyanto menegaskan bahwa berbagai kejanggalan tersebut masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan data distribusi dan pengawasan lapangan. Antrean berulang maupun kelangkaan di tingkat pengecer belum dengan sendirinya membuktikan adanya penimbunan atau penyalahgunaan BBM.

YLKI Gorontalo berharap pengawasan bersama dapat memberikan kejelasan mengenai penyebab antrean panjang sekaligus memastikan hak konsumen mendapatkan BBM sesuai ketentuan tetap terlindungi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *