konflik telah memasuki fase yang lebih kompleks dan berisiko tinggi berkembang menjadi perang regional.
Jakarta – Konflik terbuka antara Israel dan Iran terus mengalami eskalasi signifikan, dengan kedua negara kini tidak hanya menyasar target militer tetapi juga infrastruktur energi strategis yang berdampak luas terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Israel dilaporkan meluncurkan serangan ke ladang gas South Pars di Iran pada malam hari 18 Maret waktu lokal. Fasilitas energi terbesar di dunia ini mengalami kebakaran skala besar akibat serangan tersebut, yang dinilai sebagai langkah strategis untuk melemahkan ekonomi Iran secara langsung.
Sebagai balasan, Iran menyerang sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk Arab, termasuk lokasi produksi gas alam cair (LNG) di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Serangan tersebut menyebabkan gangguan operasional pada fasilitas-fasilitas tersebut, yang berdampak pada pasokan energi global dan memicu kekhawatiran akan lonjakan harga komoditas energi.
Di medan tempur utama, Iran terus meluncurkan rudal ke wilayah Israel, termasuk ibu kota Tel Aviv, yang mengakibatkan korban sipil serta kerusakan pada infrastruktur pemukiman.
Sementara itu, Israel meningkatkan operasi militer dan intelijen dengan menargetkan tokoh-tokoh penting dalam struktur kekuasaan militer Iran.
Konflik juga meluas ke wilayah Palestina di Tepi Barat, di mana serangan bersejarah dilaporkan menimbulkan korban jiwa dari kalangan warga sipil.
Hal ini mempertegas bahwa konflik telah memasuki fase yang lebih kompleks dan berisiko tinggi berkembang menjadi perang regional.
Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz – jalur utama distribusi minyak dunia yang digunakan untuk mengangkut sekitar 20% pasokan minyak global – semakin memburuk dan memperparah kekhawatiran akan potensi krisis ekonomi internasional.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres, menyampaikan keprihatinan mendalam:
“Kami sangat prihatin dengan meningkatnya eskalasi di Timur Tengah. Semua pihak harus menahan diri dan menghindari konflik yang lebih luas.”
Berdasarkan laporan dari media internasional terpercaya yaitu Reuters, Associated Press (AP News), The Guardian, Financial Times, dan Al Jazeera,
Pengamat menilai konflik ini telah masuk fase perang regional terbuka, dengan ciri khas serangan lintas negara, penargetan ekonomi strategis, ancaman terhadap pasokan energi global, serta potensi keterlibatan lebih banyak aktor kawasan.













