Koordinat.co, Opini – Di tengah keluhan panjang para petani Pohuwato akibat sedimentasi irigasi yang kian parah, langkah Yosar dalam melakukan normalisasi saluran irigasi patut dicatat sebagai tindakan nyata yang menjawab kebutuhan paling mendasar masyarakat tani: air. Bagi petani, irigasi bukan sekadar infrastruktur, melainkan nadi kehidupan yang menentukan hidup-matinya musim tanam.
Sedimentasi yang menumpuk selama bertahun-tahun telah menyebabkan aliran air tidak lagi maksimal. Sawah-sawah di sejumlah wilayah mengalami kekeringan saat musim tanam, sementara saat hujan justru kebanjiran. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran alat berat untuk normalisasi irigasi menjadi solusi konkret yang selama ini dinanti, namun kerap terhambat oleh prosedur birokrasi dan tarik-ulur kewenangan.
Yosar menunjukkan bahwa kepedulian tidak harus menunggu momentum politik atau program tahunan. Tindakan normalisasi sedimentasi yang dilakukan menjadi bukti bahwa keberpihakan pada petani bisa diwujudkan melalui kerja langsung di lapangan. Ini bukan sekadar simbol empati, tetapi langkah strategis yang berdampak langsung pada produktivitas pertanian dan ketahanan pangan lokal.
Lebih dari itu, apa yang dilakukan Yosar seakan menjadi cermin bagi pemerintah daerah. Ketika masyarakat sudah terlalu lama menunggu solusi, inisiatif individu justru hadir lebih cepat dan efektif. Tentu, ini bukan untuk meniadakan peran negara, melainkan sebagai pengingat bahwa persoalan rakyat harus ditangani dengan kecepatan, bukan sekadar wacana.
Petani Pohuwato tidak membutuhkan janji yang diulang setiap musim tanam. Mereka membutuhkan air yang mengalir lancar ke sawah. Normalisasi irigasi yang dilakukan Yosar membuktikan bahwa solusi bisa dimulai dari kemauan dan kepedulian. Harapannya, langkah ini tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi pemicu kolaborasi yang lebih besar demi keberlanjutan pertanian dan kesejahteraan petani Pohuwato.














