Example floating
Example floating
Analisis Geopolitik

Di Balik Narasi Sunni–Syiah: Senjata Sunyi dalam Konflik Iran–Israel

139
×

Di Balik Narasi Sunni–Syiah: Senjata Sunyi dalam Konflik Iran–Israel

Sebarkan artikel ini

Jika melihat dinamika di lapangan, gambaran itu tidak sepenuhnya konsisten. Iran, misalnya, tetap memberikan dukungan kepada kelompok Sunni seperti Hamas dalam konteks perlawanan terhadap Israel. Bahkan jaringan aliansinya melibatkan berbagai aktor lintas mazhab yang tidak sepenuhnya mengikuti garis sektarian.

Jakarta — Dentuman rudal dan eskalasi militer antara Iran dan Israel kerap menjadi wajah paling terlihat dari konflik di Timur Tengah. Namun di balik itu, ada lapisan lain yang bekerja lebih halus—dan dalam banyak hal, lebih menentukan: perang narasi.

Salah satu narasi yang paling sering muncul adalah soal pertentangan Sunni dan Syiah. Ia hadir di berbagai ruang—dari media sosial hingga diskursus politik—seolah menjadi kunci untuk memahami konflik. Tapi ketika ditelusuri lebih jauh, narasi ini tidak selalu sejalan dengan realitas di lapangan.

Investigasi ini menemukan bahwa isu sektarian kerap digunakan bukan sekadar sebagai refleksi perbedaan teologis, melainkan sebagai alat framing untuk membentuk persepsi. Dalam proses itu, konflik yang kompleks disederhanakan menjadi pertentangan identitas—mudah dipahami, tapi juga mudah dimanipulasi.

Perpecahan Sunni–Syiah memang memiliki akar sejarah panjang. Namun dalam konteks modern, batas antara agama dan politik menjadi semakin kabur. Narasi sektarian tidak lagi berdiri sendiri, melainkan melekat pada kepentingan kekuasaan.

Artikel Terkait :  Poros di Balik Asap Perang : Siapa Sebenarnya Mengendalikan Jaringan Milisi yang Terkait Iran?

Iran, sebagai negara dengan mayoritas Syiah, sering diposisikan dalam berbagai narasi sebagai ancaman bagi dunia Sunni. Label ini berulang kali muncul dalam framing konflik kawasan. Di sisi lain, Israel lebih sering dipotret sebagai aktor negara dengan kepentingan keamanan, bukan sebagai bagian dari konflik berbasis identitas keagamaan.

Padahal, jika melihat dinamika di lapangan, gambaran itu tidak sepenuhnya konsisten. Iran, misalnya, tetap memberikan dukungan kepada kelompok Sunni seperti Hamas dalam konteks perlawanan terhadap Israel. Bahkan jaringan aliansinya melibatkan berbagai aktor lintas mazhab yang tidak sepenuhnya mengikuti garis sektarian.

Di titik ini, menjadi jelas bahwa konflik tidak berjalan di atas garis Sunni dan Syiah secara kaku.

Lalu, siapa yang mendorong narasi ini?

Sejumlah kajian dari lembaga riset konflik dan pengamat Timur Tengah menunjukkan bahwa narasi sektarian kerap diperkuat oleh berbagai aktor, baik di tingkat regional maupun global. Bagi sebagian negara, isu ini dapat digunakan untuk membatasi pengaruh Iran sekaligus mengkonsolidasikan dukungan domestik. Dengan membingkai konflik sebagai ancaman ideologis, legitimasi politik dapat dibangun lebih mudah.

Artikel Terkait :  BBM Amerika Naik, Warga Mengeluh, Pemerintah Berdalih Geopolitik

Di tingkat yang lebih luas, narasi ini juga berfungsi sebagai alat dalam persaingan geopolitik. Dengan memperkuat perpecahan internal, potensi solidaritas dunia Islam terhadap isu Palestina dapat melemah. Dalam situasi seperti itu, konflik bergeser dari tekanan eksternal menjadi ketegangan internal.

Peran media digital mempercepat proses ini. Potongan video, narasi provokatif, hingga informasi yang tidak terverifikasi menyebar dengan cepat, sering kali tanpa konteks. Isu yang kompleks direduksi menjadi slogan sederhana—dan dalam bentuk itulah ia paling mudah diterima.

Dampaknya tidak berhenti pada opini publik.

Dalam peta geopolitik, narasi ini berkontribusi pada fragmentasi yang nyata. Negara-negara yang seharusnya memiliki kepentingan bersama justru terbelah dalam blok-blok yang saling mencurigai. Fokus terhadap isu Palestina pun perlahan bergeser, kehilangan posisi sebagai agenda utama.

Di sisi lain, framing sektarian juga membuka ruang bagi perubahan arah kebijakan. Hubungan yang sebelumnya dianggap sensitif dapat terlihat lebih rasional ketika ditempatkan dalam konteks menghadapi “ancaman bersama”. Dalam beberapa kasus, ini menjadi pintu masuk bagi normalisasi hubungan yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Artikel Terkait :  Mengukur Daya Tahan Israel dalam Skenario Perang Panjang

Konflik di Suriah, Irak, dan Yaman menunjukkan bagaimana narasi sektarian dapat memperpanjang dan memperumit krisis. Ketegangan lokal berkembang menjadi konflik proxy yang melibatkan banyak kepentingan.

Dalam banyak situasi, narasi Sunni–Syiah justru mengaburkan fokus utama: konflik antara Iran dan Israel sebagai pertarungan pengaruh kawasan. Ketika perhatian publik terserap ke dalam perdebatan identitas, dimensi geopolitik yang lebih besar menjadi kurang terlihat.

Sumber :

International Crisis Group

→ Analisis konflik sektarian dan dinamika Timur Tengah

Brookings Institution

→ Rivalitas Iran dan geopolitik kawasan

Carnegie Middle East Center

→ Studi tentang politik sektarian dan kekuasaan

 Media Internasional

Al Jazeera

→ Liputan konflik Iran–Israel & opini geopolitik

BBC News

→ Analisis konflik Timur Tengah

Reuters

→ Fakta lapangan & perkembangan konflik

 Pengamat & Akademisi

Vali Nasr

Fawaz A. Gerges

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *