Sejalan dengan doktrin militernya, Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi atau menerima gencatan senjata selama masih berada di bawah serangan
Jakarta — Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran secara resmi menolak proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat, dan justru mengajukan skema tandingan dengan syarat-syarat yang lebih keras.
Penolakan ini menegaskan bahwa konflik belum mendekati titik deeskalasi, bahkan berpotensi memasuki fase yang lebih panjang dan kompleks.
Proposal AS Ditolak: Dinilai Sepihak dan Tidak Realistis
Pemerintah Iran menilai proposal yang diajukan Washington sebagai “maksimalis” dan tidak masuk akal, karena berisi tuntutan luas mulai dari pembatasan program nuklir hingga kendali militer dan jalur energi strategis. (Al Jazeera).
Menurut laporan Associated Press, proposal AS bahkan mencakup:
pelonggaran sanksi terbatas,
pembatasan program nuklir Iran,
pengurangan kemampuan rudal,
hingga pembukaan kembali Selat Hormuz.(AP News).
Bagi Teheran, paket tersebut dianggap tidak seimbang dan lebih menyerupai tekanan politik daripada upaya damai.
Iran Ajukan Proposal Tandingan
Alih-alih menerima, Iran justru mengajukan proposal tandingan yang menekankan:
kedaulatan penuh atas wilayah dan kebijakan strategis,
kompensasi atau “reparasi perang”,
serta hak menentukan kapan konflik berakhir. (AP News).
Seorang pejabat Iran bahkan menegaskan bahwa perang akan berakhir “ketika Iran memutuskan dan sesuai syaratnya sendiri.”(The Guardian).
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran ingin mengendalikan tempo konflik, bukan mengikuti tekanan eksternal.
Tidak Ada Kepercayaan terhadap AS
Faktor utama lain adalah krisis kepercayaan.
Iran menilai proposal AS bersifat sepihak (one-sided) dan tidak menjamin keamanan jangka panjang. (CBS News).
Selain itu, pejabat Iran juga menegaskan bahwa belum ada rencana negosiasi nyata,dan pembicaraan damai saat ini dianggap tidak realistis.(CBS News).
Ini memperlihatkan bahwa hubungan diplomatik kedua negara masih berada pada titik terendah.
Sikap Tegas: Tidak Bernegosiasi Saat Diserang
Sejalan dengan doktrin militernya, Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi atau menerima gencatan senjata selama masih berada di bawah serangan.
Dalam berbagai pernyataan resmi, Iran menyebut serangan AS dan Israel sebagai tindakan “ilegal dan tidak sah”, serta berjanji akan terus melakukan pembalasan. (Wikipedia).
Posisi ini memperkuat narasi bahwa Iran melihat dirinya sebagai pihak yang bertahan, bukan agresor.
Konflik Terus Berlanjut di Lapangan
Penolakan terhadap proposal gencatan senjata terjadi di tengah eskalasi militer yang terus berlangsung:
Iran masih melancarkan serangan ke wilayah Israel dan sekutunya,
sementara AS dan Israel meningkatkan tekanan militer di kawasan. (AP News).
Situasi ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih kalah oleh dinamika militer di lapangan.
Analisis: Strategi atau Risiko?
Penolakan Iran dapat dibaca sebagai bagian dari strategi besar:
Meningkatkan posisi tawar sebelum negosiasi
Menunjukkan kekuatan (deterrence) agar tidak dianggap lemah
Memaksa perubahan syarat dalam perundingan
Namun di sisi lain, langkah ini juga membawa risiko:
memperpanjang konflik,
memperluas perang ke kawasan regional,
serta meningkatkan tekanan ekonomi dan politik terhadap Iran sendiri.
Penolakan Iran terhadap proposal gencatan senjata AS bukan sekadar sikap keras, melainkan refleksi dari:
ketidakpercayaan mendalam,
perbedaan kepentingan strategis,
serta keinginan mengendalikan hasil akhir konflik.
Dengan kedua pihak masih mempertahankan posisi masing-masing, peluang perdamaian dalam waktu dekat masih terlihat tipis, dan Timur Tengah kembali berada di ambang eskalasi yang lebih luas.














