Example floating
Example floating
Analisis GeopolitikInternasional

Iran dan Palestina: Konsistensi Perlawanan atau Strategi Geopolitik?

105
×

Iran dan Palestina: Konsistensi Perlawanan atau Strategi Geopolitik?

Sebarkan artikel ini

 

Berbeda dengan banyak negara lain, Iran dikenal memberikan dukungan yang lebih konkret terhadap kelompok Palestina, meliputi bantuan finansial kepada kelompok perlawanan, pelatihan militer dan dukungan logistik, serta hubungan strategis dengan kelompok seperti Hamas dan Hizbullah

Jakarta – Di tengah konflik Palestina–Israel yang berkepanjangan, Iran tampil paling vokal dan konsisten. Namun di balik sikap tersebut, tersimpan perpaduan antara ideologi revolusi, dukungan nyata di lapangan, dan kepentingan strategis kawasan. Di saat banyak negara memilih jalur diplomasi yang hati-hati dalam merespons konflik, Iran justru tampil berbeda.

Sejak Revolusi Islam 1979, Teheran secara terbuka menempatkan diri sebagai salah satu pendukung paling konsisten bagi perjuangan Palestina.

Sebagai bagian dari identitas politiknya yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemerintah Iran secara resmi menolak legitimasi Israel dan secara rutin menyerukan pembelaan terhadap rakyat Palestina dalam berbagai forum internasional.

Salah satu simbol kuat adalah Hari Quds Internasional yang diperingati setiap akhir Ramadan sebagai bentuk solidaritas global terhadap Palestina, menjadi alat mobilisasi politik sekaligus pesan ideologis yang hingga kini tetap berlangsung.

Artikel Terkait :  Perang Iran–Israel Memanas, PBB Desak Gencatan Senjata dan Peringatkan Risiko Konflik Regional

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa posisi ini bukan sekadar kebijakan sementara, melainkan telah menjadi doktrin tetap dalam politik luar negeri Iran.

Berbeda dengan banyak negara lain, Iran dikenal memberikan dukungan yang lebih konkret terhadap kelompok Palestina, meliputi bantuan finansial kepada kelompok perlawanan, pelatihan militer dan dukungan logistik, serta hubungan strategis dengan kelompok seperti Hamas dan Hizbullah.

Meski hubungan Iran dengan kelompok Sunni seperti Hamas sempat mengalami dinamika, kerja sama tetap terjalin dalam konteks perlawanan terhadap Israel. Langkah ini membuat Iran dipersepsikan sebagai aktor yang paling “depan” dalam konflik, terutama karena keterlibatannya tidak berhenti pada pernyataan politik semata.

Di sisi lain, banyak negara mayoritas Muslim tetap mendukung Palestina dengan pendekatan berbeda. Indonesia, Turki, dan Qatar misalnya aktif dalam bantuan kemanusiaan, diplomasi internasional, serta dukungan melalui forum seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Artikel Terkait :  CEO Silicon Valley Bridge Bank Meminta Pelanggan untuk menyetor ulang dana Mereka

Namun, beberapa negara Arab seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain memilih jalur normalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords yang menandai perubahan lanskap politik kawasan.

Pengamat menilai sikap yang lebih hati-hati ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain ketergantungan pada Amerika Serikat, kepentingan ekonomi dan investasi, serta stabilitas politik dalam negeri. Dengan kata lain, perbedaan pendekatan lebih mencerminkan strategi politik masing-masing negara, bukan semata soal kepedulian.

 

Meski Iran kerap dipandang sebagai pembela utama Palestina, sejumlah analis menilai dukungan tersebut juga memiliki dimensi strategis. Palestina menjadi bagian dari upaya Iran memperluas pengaruh di Timur Tengah, rivalitas dengan Arab Saudi dan sekutunya, serta strategi menghadapi Israel dan Amerika Serikat.

Konsep “poros perlawanan” yang melibatkan Iran, Hizbullah, dan kelompok Palestina memperkuat posisi Teheran sebagai pemain kunci dalam dinamika kawasan. Dengan demikian, dukungan Iran tidak bisa dilepaskan dari kombinasi antara ideologi revolusi dan kepentingan geopolitik.

Artikel Terkait :  Iran Tembakkan Rudal ke Pangkalan Inggris–AS di Samudra Hindia

Namun demikian, sejumlah ulama dan tokoh lintas mazhab menegaskan bahwa Palestina adalah isu kemanusiaan, bukan konflik Sunni–Syiah. Dukungan terhadap Palestina datang dari berbagai kalangan, termasuk masyarakat sipil global, organisasi kemanusiaan, hingga aktivis di negara-negara Barat. Pandangan ini menegaskan bahwa solidaritas terhadap Palestina tidak dapat dipersempit hanya pada identitas mazhab tertentu.

Secara keseluruhan, Iran memang tampak paling konsisten dan vokal dalam membela Palestina, terutama karena menjadikannya sebagai bagian dari ideologi negara dan didukung dengan langkah konkret di lapangan. Namun, menyimpulkan bahwa hanya Iran yang membela Palestina adalah penyederhanaan yang tidak sepenuhnya tepat.

Dukungan terhadap Palestina hadir dalam berbagai bentuk—dari diplomasi, bantuan kemanusiaan, hingga tekanan politik internasional. Perbedaan yang terlihat lebih mencerminkan cara dan kepentingan masing-masing aktor, bukan sekadar soal keberpihakan.

Pada akhirnya, isu Palestina tetap menjadi persoalan kemanusiaan global—yang melampaui batas negara, mazhab, dan kepentingan politik.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *